Dari Rp10.000, Lazis Muadz Bangkitkan Harapan: RLH ke-50 untuk Keluarga Korban Kebakaran di Kendari

04 Mei 2026
  • https://icm.or.id/assets/thumbnail/WhatsApp_Image_2026-05-04_at_14_38_02.jpeg/li>
  • https://icm.or.id/assets/thumbnail/WhatsApp_Image_2026-05-04_at_14_36_50_(1).jpeg/li>
  • https://icm.or.id/assets/thumbnail/WhatsApp_Image_2026-05-04_at_14_36_51_(1).jpeg/li>
  • https://icm.or.id/assets/thumbnail/WhatsApp_Image_2026-05-04_at_14_36_51.jpeg/li>
  • https://icm.or.id/assets/thumbnail/WhatsApp_Image_2026-05-04_at_14_36_50.jpeg/li>

Kendari — Di sebuah sudut Kecamatan Kadia, Kota Kendari, berdiri sebuah rumah sederhana yang kini menjadi saksi bangkitnya harapan. Rumah itu bukan sekadar bangunan, tetapi jawaban atas ujian panjang yang dialami keluarga Ustazah Qornina—sebuah kisah tentang kehilangan, kepedulian, dan pertolongan Allah yang datang melalui tangan-tangan manusia.

Sebelum musibah kebakaran melanda, rumah yang ditempati keluarga ini sejatinya sudah jauh dari kata layak. Bangunan lama yang belum pernah direhabilitasi itu terus bertahan dimakan usia. Saat hujan turun, air kerap merembes masuk ke dalam rumah. Lantai menjadi basah, dan keluarga harus bertahan dalam kondisi yang serba terbatas. Meski demikian, mereka tetap bersabar menjalani kehidupan sehari-hari.

Ujian itu mencapai puncaknya pada 24 Maret 2022, hanya beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Kebakaran yang diduga akibat arus pendek listrik menghanguskan seluruh bagian rumah tanpa menyisakan apapun. Harta benda, pakaian, hingga dokumen penting seperti ijazah, semuanya hilang dalam sekejap.

Bagi Ustazah Qornina, seorang pengajar di SD Tahfizul Qur’an Muadz Bin Jabal, musibah tersebut bukan sekadar kehilangan tempat tinggal. Ia kehilangan jejak kehidupan yang selama ini dibangun bersama keluarga. Dalam waktu singkat, mereka harus menghadapi kenyataan pahit tanpa tempat bernaung.

Namun, di tengah keterpurukan itu, Allah menggerakkan jiwa-jiwa peduli untuk saling menguatkan. Melalui program Rumah Layak Huni (RLH), Lazis Muadz mengajak umat untuk berbagi—cukup dengan Rp10.000—yang kemudian menjelma menjadi harapan baru bagi mereka yang sempat kehilangan segalanya.

Dari donasi yang tampak sederhana itu, terkumpul kekuatan besar. Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala serta sinergi para relawan dan donatur, pembangunan rumah layak huni berhasil diselesaikan dalam waktu kurang lebih 20 hari. Rumah berukuran 36 meter persegi itu kini berdiri kokoh, dilengkapi dua kamar tidur, satu ruang utama, dan satu kamar mandi.

Peresmian RLH ke-50 tersebut dilaksanakan pada Ahad, 3 April 2022, dan dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat serta pemerintah setempat. Hadir dalam kesempatan itu perwakilan Kecamatan Kadia, Lurah Bende, perangkat RT dan RW, serta jajaran pembina, pengurus, dan relawan Lazis Muadz.

Camat Kadia, Hasman Dani,S.IP.,MM dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kontribusi Lazis Muadz. Ia menilai kolaborasi antara masyarakat dan lembaga sosial menjadi kekuatan penting dalam membantu warga yang tertimpa musibah.

“Alhamdulillah program ini sangat luar biasa, sangat membantu. Kondisi saat ini pemerintah sangat membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Kolaborasi seperti ini mampu meringankan beban masyarakat yang terdampak,” ujarnya.

Sementara itu, pembina Lazis Muadz, H. Zezen Zaenal Mursalin,Lc, M.Pd menegaskan bahwa program RLH adalah wujud nyata gotong royong umat. Ia mengingatkan bahwa kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

“Cukup dari Rp10.000, jika dilakukan bersama-sama, insyaAllah bisa menjadi solusi bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ungkapnya.

Suasana haru tetap terasa dalam prosesi peresmian. Keluarga penerima manfaat tak kuasa menyembunyikan rasa syukur atas bantuan yang datang di saat paling dibutuhkan. Dari kondisi yang serba kehilangan, kini mereka kembali memiliki tempat bernaung yang aman dan layak.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap ujian, selalu ada pertolongan Allah yang datang dengan cara yang tak terduga. Program RLH Lazis Muadz bukan hanya membangun rumah, tetapi juga menghidupkan kembali harapan dan menghadirkan ketenangan bagi mereka yang sempat kehilangan.

Ke depan, program ini diharapkan terus mendapat dukungan dari masyarakat luas agar semakin banyak keluarga yang merasakan manfaatnya. Sebab, dari kepedulian yang sederhana, lahir perubahan besar—dan dari Rp10.000, harapan bisa kembali dibangun.(AF)